Rabu, 09 Januari 2013

Sikap 'Tak Bersahabat' Yang Terbaca Olehku

         Kali ini mungkin bukan sekedar coretan, bisa jadi curhat, bisa juga sebuah pelarian dari rasa sakit. Atau mungkin pelampiasan dari diamnya aku selama ini. Pertama, aku tidak akan menyalahkan orang lain, tapi menyiasati dan mencoba mengerti atas perlakuan cuek- ogah- males dan ga nyaman yang aku rasakan ketika bertemu sahabatku.
         Mengeja arti sikap seseorang yang sudah dikenal dekat itu sangat mudah. Apabila dia marah, akan terlihat, apabila dia diam akan terasa, apabila dia tak nyaman pasti juga akan membuat kita merasa ada sesuatu yang salah atau sedang dipikirkannya. Itu wajar saja jika memang sudah jelas apa masalahnya dan apa alasan seseorang merubah sikapnya didepan kita. Tapi dari peristiwa yang terjadi padaku beberapa waktu lalu, semuanya terlihat aneh.
          Ceritanya entah berawal dari mana. Yang jelas aku mempunyai seorang sahabat baik sedari kecil. Aku tidak perlu sebutkan namanya. Selama kami bersahabat, kami saling tahu luar dalam. Apa yang ia lakukan aku tahu bahkan apa yg aku lakukan dia juga selalu kuberi tahu. Sejak pertemuan di lingkungan kerja, kami masih baik-baik saja, hingga terpaksa kami berpisah karena kebijakan management yang membuatnya harus meninggalkan pekerjaan lebih awal dariku.
            Aku merasa selama ini sangat menjaga perkataanku padanya dan selalu berusaha menghubunginya. Bahkan aku selalu memberitahukan padanya jika aku ganti nomor hand phone atau aku hubungi dia melalui fb, sekedar menanyakan kabarnya. Memang tidak ada feedback, tapi aku tidak menyerah. Hingga saat ia terkena musibah aku datang padanya. Tentu saja aku tidak tega melihatnya mengalami berbagai macam cobaan. Tapi waktu aku datang, ia hanya menyalamiku sekali. Tidak mengajakku ngobrol dan tidak menemuiku yang sedang bersama ibunya.
           Sebenarnya aku menunggunya menghampiriku di kamar ibunya, bukan di dapur atau di mana. Tapi sampai hampir setengah jam, ia tak kunjung datang/ Aku justru melihatnya sibuk dengan dirinya sendiri, ternyata ia menemui teman-temannya yang lain dan mengobrol dengan mereka. Saat aku keluar dari kamar dan melihatnya asyik dengan kawan-kawannya yang tidak kukenal. Rasanya kok kepingin meneteskan air mata saja. Ia mengasingkanku sedemikian rupa. Padahal seluruh keluarganya memandang tidak kenal terhadapku dan suamiku.
          Ya sudah, aku putuskan untuk keluar dan aku bersama suamiku duduk diteras. Aku bilang pada suamiku untuk pulang saja. Sepertinya kehadiran kami tidak diinginkan. Dan aku berkata dalam hati, jika sampai aku pamit ia tidak datang bersalaman denganku, maka hari itu adalah terakhir aku bertamu di rumahnya.
            Beruntung saat kami berpamitan dengan keluarganya yang lain dia berdiri. syukurlah masih ada basa-basi untuk menghiburku. Dan sepulang dari rumahnya aku dan suamiku berpendapat yang sama. saling bertanya, apa salahku? apa sih salah kita? trus kita mau gimana?
"Ya sudahlah, kita ikuti saja apa maunya."
Aku diam sepanjang perjalananku pulang. Menghela nafas panjang dan dalam. Mungkin ada saatnya aku tidak harus menjadi sahabat atau orang yang ia butuhkan. Mungkin juga karena ia lebih  nyaman dengan sahabat2 yang tidak mengenalnya begitu dekat. Atau entah, keputusan yang tidak begitu jelas menurutku.
           Dari situ aku berfikir, memang lebih baik tidak terlalu dekat dengan orang lain, sehingga apabila ia ingin menjaga jarak, tidak terlalu terasa sakit dan kehilangan. Sering, apa yang kita anggap baik belum tentu benar dan baik di mata orang lain. Sedekat apapun ia menjadi sahabat kita, kita tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya. Apa sesungguhnya yang ia inginkan. Karena kejujuran itu juga menyakitkan, jika ia memang tidak ingin lagi bersahabat denganku tentunya ia tidak akan mengatakannya dengan jujur, melainkan melalui sikapnya.
Akhirnya, pandai-pandailah menjaga ucapan dan sikap dalam berhubungan dengan orang lain, jika tidak, maka kita tidak akan pernah bisa membaca dengan baik keinginan orang lain terhadap kita.

#Memory Desember 2012.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar