Selasa, 31 Maret 2015

Edisi Kangen - Kangenan 'Nulis'

Tentang Perjalanan Menulis dan jatuh bangunnya SAYA  akhir-akhir ini :)


Lama sekali nggak  nulis di blog. Terlalu banyak alasan yang tidak sanggup saya katakan :) lebay. Well, tapi selama kurang lebih setahun ini (2014) sejak novel saya yang ke-7 terbit, saya beberapa kali diberi kesempatan oleh penerbit untuk berbagi pengalaman dan inspirasi di bookfair dan acara yang diadakan oleh penerbit. Alhamdulillah sekali, banyak teman yang saya jumpai dan tentu pengalaman mengesankan seputar kegigihan menulis yang kami semua sedang pelajari dan tekuni saat ini. Ada banyak pertanyaan yang harus saya jawab dan sedikit ilmu yang perlu saya bagi. Saya berharap hasilnya mengesankan dan berdampak positif untuk mereka semua.

Oh ya, kemana saja saya selama ini? Ada beberapa tempat yang membuat saya bangga mendatanginya. Pertama, saya diberi kesempatan membedah buku dan sharing inspirasi di Jogja Islamic Bookfair yang diadakan di Gor UNY dan di Toko Buku Togamas Jogja yang saat itu dipandu oleh senior seekaligus CEO Penerbit Indiva Media Kreasi (solo) Mbak Afifah Afra. Kesempatan berikutnya adalah di kampus besar yang seleama ini hanya menjadi impian saya. Akhirnya saya bisa masuk ke kampus UGM dalam undangan special dari teman-teman FLP Jogja bersama salah satu penulis muda yang humoris Ukhti Arkandini Leo.

Kesempatan selanjutnya sama sekali tak terduga. Salah satu kawan dari FLP JOgja berkenan mengundang saya untuk mengisi bedah buku karya penulis cilik yang luar biasa di Perpustakaan Kota Jogjakarta. Saat itu saya bersama Mas Lido dan Mbak Yova Tri Yolanda Mahasiswi Fak Psikologi UGM yang keduanya juga tergabung dalam FLP Jogja. Semangat saya semakin memuncak ketika melihat para penulis cilik yang sangat berbakat  dan patut diacungi jempol. Melihat mereka, saya jadi merasa sudah sangat terlambat dalam berkarya.

Dan kesempatan istimewa lain yang diberikan penerbit Indiva adalah ketika saya diundang untuk sharing pengalaman di UNS. Saat itu saya bersama penulis senior tanah air yang saya kagumi, mbak Sinta Yudhisia. Akhirnya dari dunia kepenulisan yang saya tekuni, saya mulai bisa bertemu dengan para penulis favorit saya satu per satu. Tentu saja pengalaman itu sangat berharga dan tidak dapat dinilai dengan harga berapapun.

Tapi... tentu saja saya sempat mengalami satu titik terjenuh selama menekuni dunia kepenulisan. Yaitu saat saya gagal dalam mengikuti lomba menulis novel. Dua kali tepatnya saya pernah mengikuti lomba novel. Dulu sekali, pertama waktu saya nekat mengirim novel perdana ke ajang lomba di salah satu penerbit di Jogja sekitar tahun 2008-2009. Saya gagal untuk pertama kalinya dengan harus berpuas di 30 besar. Tapi, karena itu event pertama, saya sudah cukup bangga bisa lolos hingga 30 besar. Tidak ada kata putus asa waktu itu, karena saya masih sangat pemula. Dan akhirnya novel itu masuk di penerbit mayor di Jogja. sungguh kemenangan lain yang Allah sediakan untuk saya. Namun, jalan tidak selalunya mulus. Saya sering kali gagal di ajang lomba cerpen maupun puisi. Rasa down mulai lebih 'berat' terasa. Mungkin... karena saya merasa naskah saya sudah bagus, mungkin ada kesombongan yang tidak saya sadari ketika saya merasa sudah 'bisa' menulis. Sehingga saya justru tidak mampu menahan kekecewaan saya saat menghadapi kegagalan.

Pengalaman pahit itu terulang lagi tahun ini. Saya mengikuti lomba novel untuk ke-dua kalinya. Dan... hasilnya sama, saya mengalami kegagalan di 20 besar seleksinya. Dan lagi-lagi saya amat sangat kecewa. Berminggu-minggu saya hanya sibuk merenung tanpa menyentuh naskah saya lagi sama sekali. Bahkan saya merasa bosan, lelah dan tertekan (karena sengaja nggak nulis). Semangat saya mulai luntur. Sebal dengan prestasi teman yang semakin terlihat meninggi di status2 yang saya baca, sedang saya merasa stagnan. Tidak bergerak. Saya berpikir bagaimana agar semangat saya kembali seeprti kemarin, menulis dan tidak pernah berhenti. Saya kembali bermalasan dengan alasan mencari semangat yang hilang. Kegiatan nonton DraKor kembali menggila, hingga akhirnya saya tertohok dengan semua kisah dalam cerita yang saya tonton. Muncul berbagai pertanyaan :
      - Bagaimana orang-orang itu menulis cerita dengan alur yang bagus 
    - Bagaimana agar cerita saya membawa dampak yang luar biasa seperti apa yang saya rasakan setelah menonton film-film itu.
      - Bagaimana saya tidak bisa, sedangkan mereka bisa membuat cerita yang lain dan beragam.

Dan banyak lagi yang saya renungkan. Mungkin, pikiran saya terlalu tinggi untuk penulis amatir seperti saya ini, tapi itulah mimpi besar saya, untuk bisa membuat cerita yang berdampak (positif) bagi pembaca. Saya tidak ingin menulis yang "itu-itu" saja, saya ingin keluar dari zona yang saya banggakan selama ini, tapi saya sadar, semua butuh proses yang panjang. Dan tentu saja, perjuangan saya masih jaauuhh dibanding teman-teman. Wajar, kalau akhirnya saya masih diam dadn gigit jari melihat prestasi mereka.

Suntikan semangat, itulah kenapa saya selalu  butuh orang lain. Ya, saya butuh teman. Dan Allah memberikan jalan yang akhirnya kembali menggugah saya untuk berdiri lebih tegak dan berjalan dengan kaki yang lebih kuat. Seorang teman lama, teman gokil yang tidak saya duga mengirim sebuah pesan di inbox tanpa basa-basi. Panggil saja di Denni. Dia mengabarkan bahwa dia menceritakan tentang saya pada seorang dosen bimteknya di UT. Aku agak heran juga, kok tiba2 temanku itu cerita soal aku. Yang lebih kaget lagi ketika dia bilang aku seorang penulis (jujur, saya  kira dia malah nggak tahu kalau saya suka nulis). Tapi itulah mungkin jalan pertemanan yang akhirnya melebarkan sayap mimpi saya yang lain. Saya dipertemukan dengan Ibu Yuni Wijayanto, seorang Librarian yang mengabdi di KPAD Gunungkidul. Bahkan beliau berkunjung ke rumah, banyak hal yang kami obrolkan, terutama tentang dunia kepnulisan di GK yang ternyata banyak yang masih belum terungkap. Ada mimpi yang sama, tujuan yang ternyata bisa beriringan. Hal itu membuat semangat saya tersiram kembali. Bahkan beliau mengatur pertemuan dengan pihak pemerintah daerah. Walhasil, saya diberi kesempatan untuk bertemu 'sowan' dengan Bapak Wakil Bupati Gunungkidul, Bpk H. Imawan Wahyudi... sesuatu yang seblumnya tidak terpikirkan oleh saya.

Ehm... dulu pernah terlintas ingin mengirim buku-buku saya kepada pemerintah daerah, tapi saya tidak berani. Saya khawatir dianggap melenceng dari tujuan saya menulis. Tapi saat ini fakta yang saya temui tidak seperti pikiran sempit saya dulu. Setelah banyak berbincang dengan Pak WaBup saya terrmotivasi lagi dan diberikan kesempatan menyampaikan aspirasi yang sudah lama mengendap di hati dan otak saya :) Itulah kenapa saya akhirnya kembali sadar, banyak jalan menuju mimpi-mimpi itu. Dukungan dari pihak pemerintah yang tentunya tidak lepas dari kemaslahatan orang banyak ternyata juga 'penting'. Sangat penting bahkan, karena mereka mampu menjadi jembatan yang akhirnya bisa membantu para penulis GK yang selama ini 'mute'  menjadi penulis yang bisa membagi 'obrolan' atau 'ilmu' kepada calon-calon penulis hebat di GK. Jembatan itu mungkin mempunyai banyak fungsi yang bisa menaikkan level kepenulisan para penulis yang sebenarnya dimiliki Gunungkidul. Menggali potensi emas yang sejauh ini masih tersembunyi. Maybe... ya itu mungkin sekali, who knows? 
Bukankah ada pepatah bilang 'there is wish, there is a way'  *baca di buku tulis sidu*  dan akhirnya... aku kembali fresh, semangat ini muncul berkat banyak hal baru yang saya dapatkan dari sekian orang hebat yang saya temui.

Itulah kenapa, penulis juga perlu orang lain, perlu bergaul, perlu lingkungan dan perlu lebih sensitif, sehingga akan banyak yang bisa kita ambil atau bagi kepada siapa saja dan di mana saja kita bernaung. Ya... semangat, sesuatu yang saya butuhkan saat ini, ketika mimpi-mimpi mulai berproses menjadi sesuatu yang nyata. Panjang sekali bukan... edisi kangen-kangenan dan potret yang berhasil menjadi reminding buat saya di blog kali ini. Ini karena saya sudah punya semangat lagi :)  dan semoga bisa menularkan semangat ini kepada teman-teman. Jika tidak menulis kita mau ngapain coba?

Hehe... bangkitkan penamu! 


Salam Kangen,
Mell 'Rma Shaliha.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar